Masa Kecil Gajah Mada

MASA KECIL GAJAH MADA

Kisah hidup Gajah Mada. Gajah Mada lahir didesa Mada, Madakaripura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang mahayogi yaitu Ki Hanuraga, yang dikenal dengan nama Bagawan Hanuraga. Mengenai Gajah Mada diceritakan, bahwa Gajah Mada kecil bernama Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama lima tahun, sambil mempelajari ilmu ketatanegaraan.

I Dipa (gajah mada kecil) adalah seorang yang sebatangkara sebagai pengembala kambing. Perkenalan Mahayogi Hanuraga dengan I Dipa terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ke tiga kalinya mengelilingi nusantara (kala itu disebut nusaning nusa), sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Watukaru di Bali, ketika usia beliau sudah sepuh (tua), sesuai tradisi perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan.
Mahayogi Hanuraga menemukan Gajah Mada dipinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Mahayogi Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajah Mada. Dari Ki Hanuraga-lah I Gajah Mada belajar ilmu silat dan kanuragan serta belajar ilmu ketatanegaraan dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata dibawah bimbingan langsung sesepuh generasi III Ki Hanuraga.

Gajah Mada kecil sering diejek oleh teman-temannya karena dia memiliki kuping yang lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia dipanggil I Gajah dari desa Mada.

Berikut beberapa petikan yang diambil dari Parampara Perguruan Suling Dewata mengenai Ki Gajah Mada dan Ki Soma Kepakisan, seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga.
Ini adalah pengembaraanku yang ketiga dan merupakan yang terakhir menjelajahi nusantara. Ketika aku melangkahkan kakiku dengan santai dipinggiran hutan dekat sebuah desa yang bernama desa Mada atau lengkapnya Madakaripura, pada sebidang tanah datar pandangan mataku tertumbuk pada seorang anak yang menggelepar bergulingan ditanah seperti sedang sekarat. Aku segera melompat ringan dan setelah dekat ternyata seorang anak berusia sekitar 14 tahunan.

Tubuhnya sebenarnya tegap, tapi entah kenapa menggelepar-gel­epar seperti sekarat menahan siksaan berat, tubuhnya memancarkan sinar merah dan hijau secara berganti-ganti,­ berkali-kali anak itu ingin bicara padaku tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya tangannya saja menujuk-nunjuk sebuah goa dipinggir hutan. Dengan sigap aku melompat ke mulut goa, didalam goa aku melihat seekor ular naga wilis sebesar pohon pisang yang panjangnya sekitar delapan depa, mati kehabisan darah dan ada bekas gigitan ditubuh ular naga wilis ini, didekat bangkai ular naga wilis ada cahaya merah setelah kudekati ternyata “ONG BRAHMA” sebuah jamur berwarna merah sebesar niru, yang sebagian habis tercabik-cabik.­ Ong Brahma adalah mustika langka yang menjadi rebutan kaum persilatan karena mampu melipat gandakan tenaga panas menjadi seribu kali lipat, rupanya ular naga wilis ini adalah penjaga “Ong Brahma” yang langka ini.

Bersyukur anak ini berjodoh dan bertemu denganku, jika tidak bertemu pesilat berilmu tinggi anak ini dapat dipastikan kematiannya, sebab minum darah ular saja bisa mati membeku kedinginan apalagi makan “Ong Brahma” akan kepanasan darah mengering, jika makan keduanya akan tersiksa panas dan dingin secara bergantian dan akhirnya mati. Tenaga dalam yang berhawa panas dan dingin yang bergejolak saling mematikan, aku isap habis-habisan dengan tenaga sakti Isap Bhumi, diselaraskan dalam dirinya lalu disalurkan kembali ketubuh anak ini sehingga seluruh nadhis terbuka, seluruh garanthi (simpul nadhis) terbuka, tujuh cakra besar terbuka dan kundalini terbangkitkan seketika, tenaga dalam masih berlebihan terpaksa dibagi ke 108 nadhis diseluruh tubuh anak ini, baru dapat membebaskan anak ini dari kematian. Dari kemalangan terancam kematian mengerikan berubah menjadi keberuntungan luar biasa.

Impian seluruh dunia persilatan dengan terbukanya seluruh nadhis, garanthi, cakra dan bangkitnya kundalini, orang biasa membutuhkan latihan puluhan tahun untuk bisa mencapai tingkatan seperti ini. Setelah setengah hari anak ini pingsan akhirnya sadar juga wajahnya cemerlang berseri-seri, begitu anak ini sadar langsung berlutut dihadapanku, rupanya anak ini sadar juga bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya, setelah mengucapkan terimakasih anak ini mulai menuturkan riwayat hidupnya.

Anak ini bercerita namanya “Dipa” tidak tau orang tua kandungnya, sejak kecil ia sudah menjadi tapa daksa (yatim piatu) dan harus bekerja pada tuan tanah untuk menanggung hidupnya, dia ditugaskan mengembala sapi, anak yang kehilangan sapi dihukum keras dicambuk, dipukuli, bahkan bila berkali-kali dipotong tangan atau kakinya. Anak ini bercerita bahwa dia telah kehilangan kambing tiga kali dan tentunya dia takut kembali karena akan menerima hukuman sangat berat, bisa-bisa dihukum potong tangan atau kaki. Sehingga untuk menghindari hukuman dia mencari ular naga wilis yang memakan kambingnya dan melarikannya kedalam goa, ketika dililit sama ular naga wilis, Dipa menggigit tubuh ular dan meminum darahnya.

Ketika ular itu mati karena kehabisan darah, ia merasa haus dan kelelahan, dan melihat jamur berwarna merah yang meneteskan air dan iapun langsung meminumnya dan meremas-remas jamur tersebut untuk mendapatkan lebih banyak air karena rasa haus sehabis berkelahi dengan ular naga wilis.
“Syukur hamba (Dipa) bertemu dengan tuan (Ki Hanuraga), dan nyawa hamba berhasil diselamatkan, sekarang hamba merasa kuat, segar bugar, mulai sekarang hamba berguru pada tuan dan ikut kemanapun tuan pergi dari pada hamba kembali ke desa dihukum potong tangan atau kaki dan menjadi cacat seumur hidup”.
Aku tersenyum dan menerimanya sebagai siswa, namun aku berjanji mengajarkannya selama lima tahun saja, Dipa sering menyebutku dengan Eyang Wungkuk, aku terpaksa menetap dihutan bersama Dipa selama lima tahun dan mengajari ilmu silat dan ilmu ketatanegaraan.

Tepat sebulan aku dan Dipa tinggal dipondok terpencil, tiba-tiba datanglah seorang pendeta tua dengan seorang muridnya yang masih muda berusia sekitar 20 tahun. Pendeta ini terluka parah, isi dada dan organ dalamnya yang lain telah hancur terguncang, pendeta ini bernama Maharsi Gunadewa dan muridnya bernama Soma Kepakisan. Maharsi Gunadewa terluka dalam yang sangat parah setelah terlibat pertarungan dengan saudara seperguruannya memperebutkan buku warisan perguruan yang mana dalam pertarungan itu ia dikalahkan oleh adik seperguruannya dan dengan sisa tenaganya ia berusaha mengajak murid kesayangannya melarikan diri, rencananya ia akan ke Gunung Watukaru di Bali Dwipa, agar muridnya dapat pelajaran yang sempurna.

Aku memperkenalkan diriku sebagai Bagawan Hanuraga, pewaris Paiketan Paguron Suling Dewata di Gunung Waukaru, mendengar namaku sang Maharsi tersenyum puas, sambil bicara terputus-putus, sang Maharsi memohon agar menerima muridnya menjadi murid Gunung Watukaru, akupun menyanggupinya agar Dipa ada teman berlatih, hasilnya akan jauh lebih baik ketimbang berlatih sendiri.
Sang Maharsi Gunadewa tersenyum puas sambil berkata “perjalananku tidak sia-sia” iapun meninggal sambil tersenyum.
Mulai saat itu aku membina dua siswa ditanah Jawa, semuanya sangat berbakat, hampir sama bakat dan semangatnya dengan semangatku dimasa muda dulu. Aku betul-betul puas dengan kemajuan kedua muridku ini, kemajuan yang sangat pesat dalam waktu yang sangat singkat.

Ternyata kemajuan yang dicapai kedua muridku ini selalu seimbang, Dipa mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat karena meminum darah ular naga wilis dan jamur merah “Ong Brahma” sedangkan Soma juga sama kuatnya karena pernah memakan mustika perguruannya berupa telur penyu ribuan tahun dan telur rajawali putih ribuan tahun. Ditempat terpencil ini tak sia-sia penyepianku selama lima tahun ditanah Jawa, dapat dipastikan aku berhasil membina dua ksatria lelanangin jagat. Setelah ditempa ilmu kawisesan dan ilmu kadikjayaan dibawah bimbinganku Dipa dan Soma berlatih dengan sungguh-sungguh, tiada henti, ditempa teriknya matahari, dibawah guyuran hujan, berlatih dikegelapan malam.

Ditempa berbagai ilmu dahsyat Gunung Watukaru, tiga ratus enam puluh gerakan melemaskan tulang, delapan belas macam kuda-kuda, delapan belas macam pukulan, delapan belas macam tendangan, delapan belas macam tangkisan, delapan belas macam pergeseran kaki, delapan belas macam berguling, delapan belas macam mengelak, delapan belas macam penyatuan tenaga tangan dan delapan belas macam ilmu sapuan.

Selanjutnya aku ajarkan lima macam ilmu silat dasar yang disebut, ilmu silat Depok, ilmu silat Setembak, ilmu silat Kerthawisesa, ilmu silat Pancasona, ilmu silat Tat Twam Asi, setiap silat dasar terdiri dari 36 jurus dan hanya memerlukan 42 hari Dipa dan Soma berhasil menguasai ilmu silat dasar tersebut. Sehingga Dipa dan Soma siap menerima ilmu tertinggi dari Puncak Barat Gunung Watukaru yang berjumlah 72 dari Paiketan Paguron Suling Dewata, ilmu silat Bumi dan Langit, ilmu silat Delapan Penjuru Angin, ilmu silat Ombak Samudra dan seterusnya.

Selanjutnya kedua muridku Dipa dan Soma aku bekali dengan berbagai ajian yang maha dahsyat, seluruhnya ada delapan belas ribu enam ratus enam puluh tujuh ajian seperti: ajian Sang Hyang Wisesa, ajian Tutur Menget, ajian Pelungguhan, ajian Pegantungan Pegating Tiga, ajian Pelalangon, ajian Telaga Membeng, ajian Pegedongan, ajian Minaka Dharma, ajian Wewadonan Titi Murti, ajian Sarining Kelanangan, ajian Yata, ajian Pemuteran, ajian Sayu Rahina Sada, ajian Masun, ajian Weruhing Bapa Babu, ajian Swakar, ajian Tri Pemuteran dan sebagainya.
Kemudian aku turunkan ajian kamoksan dibagian akhir, merupakan tujuan akhir manusia hidup didunia, bebas ikatan kelahiran berulang, hinga menyatu dengan Hyang Widi-Tuhan Yang Maha Esa, seperti: ajian Kelepasan Ring Sarira, ajian Tutur Kelepasan, ajian Wekasing Ujar, ajian Sang Hyang Dharma, ajian Wekasing Seputih, ajian Dharma Kelepasan Kamoksan, ajian Pakekesing pati, dsb.

Paling akhrir aku turunkan 8 tahapan dyana paling berat, merupakan tempaan paling berat dari puncak Watukaru yaitu: berendam di air sampai air setinggi leher selama tujuh hari tujuh malam, samadhi di goa “agni mandala” goa panas tiada tara, panas asli dari pusat bhumi selama tujuh hari tujuh malam, tubuh tergantung terbalik bagaikan seekor kelelawar didahan pohon nan rindang, bhumi diatas kepala langit dibawah tapak kaki selama tujuh hari tujuh malam, selanjutnya merangkak ditanah bagaikan seekor kijang selama tujuh hari tujuh malam, tubuh tertanam ditanah/pasir setinggi leher selama tujuh hari tujuh malam, menahan terjangan air terjun dengan ubun-ubun yang lembut selama tujuh hari tujuh malam, kemudian menutup diri di dalam “goa sunia mandala” selama tujuh hari tujuh malam, terakhir menatap matahari selama seratus hari dan menatap rembulan selama tujuh malam sebelum, saat dan setelah purnima.

Tempaan berat dari Puncak Barat telah dilampaui semua, tanpa terasa waktu lima tahun telah berlalu, serasa baru kemarin. Muridku Dipa dan Soma sedang duduk dihadapanku, akhirnya waktu belajar kamu berdua telah selesai, Eyang akan meninggalkanmu. Selama Eyang pergi berlatihlah bersama dengan rajin, apa yang engkau telah capai saat ini baru sekedar tahu, ilmu ini dapat disempurnakan terus tanpa batas, sehingga kekuatannya meningkat puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lipat dari yang engkau capai saat ini. Muridku Dipa bersujud, guru hamba mohon ijinkan hamba ikut pergi kemanapun engkau pergi agar hamba dapat melayani mengurus segala keperluan guru, Soma juga ikut memperkuat agar keduanya ikut bersama. Muridku berdua engkau tidak usah kawatir, Eyang sudah biasa mengurus diri sendiri, selama pengembaraan demi pengembaraan, engkau harus rajin berlatih menyempurnakan ilmu.

Jika engkau ikut engkau hanya menghambat gerak langkah Eyang saja, ilmu lari cepat peringan tubuh yang engkau miliki belum ada sepersepuluh dariku sehingga akan terlambat, engkau harus selalu bersama, berlatih bersama, saling mengawasi, saling mengingatkan kesalahan masing-masing, setelah itu jalankan Dharmamu, jangan sekali-kali merusak nama pertapaan Candra Parwata di Gunung Watukaru dengan ilmumu. Jika engkau merusak nama perguruan Paiketan Paguron Suling Dewata, betapapun aku sayangnya sama kamu berdua, aku tidak dapat menyelamatkan nyawamu akan ada utusan dari Puncak Barat untuk mencabut dan memunahkan ilmumu bila perlu mencabut nyawamu sekalipun.
Setelah Dipa dan Soma melakukan “Pada Sawanam” (memeluk kaki brahman) biasa dilakukan seorang anak kepada guru dan orang tuanya. Akupun pergi meninggalkan muridku yang masih tetap berlutut ditanah sambil melantunkan wirama nawa sanga astawa.

Diceritakan Dipa dan Soma tiap hari berlatih siang dan malam, tidak mengenal bosan dan tidak mengenal lelah, kian hari ilmunya semakin meningkat pesat, keduanya saling mengawasi selama latihan, saling memperbaiki kesalahan, berlatih dan terus berlatih, tanpa terasa dua tahun Dipa dan Soma berlatih bersama tanpa bimbingan langsung Ki Hanuraga, ilmunya telah meningkat puluhan kali lipat dari sebelumnya. Selesai berlatih mereka duduk berdua dengan santai.
Soma memulai berbicara mengeluarkan idenya, Dipa saya telah menyiapkan sebuah Goa tempat berlatih yang aku namakan “Goa Kepakisan” sesuai dengan namaku “Soma Kepakisan” kita masuk Goa dan berlatih disana tidak keluar selama hidup kita, agar ilmu kita sempurna. Dengan begitu selain ilmu kita sempurna, kita terjamin tidak merusak perguruan dan pertapaan yang ada di Gunung Watukaru Bali, terus terang saja ngeri aku membayangkan peringatan dari Mahaguru kita.

Wahai saudaraku Soma, aku justru punya pendapat lain, ilmu yang kita miliki harus kita amalkan agar berguna bagi nusa dan bangsa khususnya dan seluruh umat manusia di dunia, aku justru ingin mengajak saudara Soma mengabdi di kerajaan, kalau kita terkenal dan menjadi pejabat yang baik Perguruan kita akan bangga pada kita berdua.

Dipa, ingat pesan Mahaguru, kita harus selalu bersama, saling mengawasi, saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan, baru dua tahun jauh dari guru kita sudah beda pendapat, kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan melalui pertarungan sekaligus menguji diri, yang kalah harus mengikuti ajakan yang menang, jika aku kalah aku akan mengikutimu mengabdi di kerajaan, tapi jika engkau kalah harus mengikutiku bertapa seumur hidup didalam Goa Kepakisan, sambil berlatih dan terus berlatih sampai ilmu kita sempurna seperti Mahaguru. Disepakati bersama antara Dipa dan Soma bersiap-siap melatih diri selama satu bulan dan bulan depan kita bertarung menentukan siapa yang lebih unggul diantara murid Mahaguru Eyang Wungkuk, dan jangan lupa akan taruhanya yang kita sepakati bersama.

Di pagi yang cerah diwaktu yang telah disepakati bersama antara Dipa dan Soma, keduanya sudah sama siap dan pertarunganpun dimulai tanpa ada orang ketiga sebagai penengah, pertarungan demi pertarungan, semua macam ilmu yang dipelajari dikeluarkan semua namun dari awal sampai akhir setelah satu hari satu malam ternyata mereka berdua sama kuat, Dipa dan Soma keduanya tersenyum sambil napas masih tersengal-sengal,

Soma lebih dulu berkata “bagaimana Dipa – ternyata tenaga dalam, tenaga bathin, dan ilmu silat kita berimbang sama kuat”
belum kita sepakati sebelumnya, apa kamu tetap ingin mengabdi di kerajaan? Jika engkau tetap ingin mengabdi aku tidak melarang, sedangkan aku sendiri bertapa seumur hidupku, sekarang terserah engkau kekuatanku tidak cukup untuk memaksamu mengikuti kehendakku, sebelum engkau pergi mengabdi di kerajaan, marilah kita pergi ke Goa Kepakisan.

Aku minta tolong apakah tenaga dalam gabungan kita mampu menghancurkan pintu Goa yang telah kurancang sangat kuat untuk menahan agar tidak bisa keluar lagi. Dipa dan Soma bersama menuju Goa Kepakisan, sesampainya disana Dipa dan Soma mengerahkan segenap tenaga dalamnya digabungkan untuk menggempur pintu Goa, namun sampai tiga kali dipukul tidak mampu menghancurkan pintu Goa Kepakisan. Soma berkata, selamat jalan saudaraku aku segera masuk goa dan menutup pintu dan tidak keluar lagi selamanya.

Sementara Dipa (Gajah Mada) berjalan dan terus berjalan, menuju sebuah kerajaan yaitu kerajaan Majapahit. Ketika tiba disebuah jalan tanjakan terjal, Dipa tiba-tiba melihat kereta indah sedang berlari kencang diluar kendali, ada dua orang wanita cantik didalamnya. Melihat bahaya mengancam tanpa pikir panjang Dipa melompat sigap menahan kuda dan kereta yang nyaris masuk jurang dan Dipa berhasil menyelamatkan ke dua putri tersebut. Ternyata kedua putri yang ditolong ini adalah putri kerajaan majapahit yang baru pulang dari istana Daha. Kedua putri ini yang masih ketakutan dan wajahnya nampak pucat, mengucapkan terimakasih atas pertolongannya. Dipa memperkenalkan diri dengan nama ejekan diwaktu kecil yaitu “GAJAH MADA”, selanjutnya berpamitan akan melanjutkan perjalanan ingin mengabdi di kerajaan Majapahit.

Sang putri bertanya, kamu ingin ke Majapahit ? Dipa mengangguk, ketahuilah Mada kami ini putri dari kerajaan Majapahit, adik sepupu dari raja Kalagemet. Kalau ingin ke Majapahit ikutlah dengan kami, nanti akan aku perkenalkan dengan petinggi kerajaan. Gajah Mada akhirnya memutuskan ikut dengan kedua putri menuju kerajaan Majapahit. Sesampai di kerajaan kedua putri disambut oleh kakaknya raja Kalagemet atau Jayanegara dan kedua ibunya Gayatri dan Tribuana serta patih Arya Tadah. Kedua putri menyampaikan pada kakak dan ibunya serta patih yang kebetulan ada disana, bahwa kudanya mendengar auman harimau lalu berlari kencang dengan binalnya, hampir saja terperosok masuk jurang kalau tidak ditolong Gajah Mada yang dengan sigap menahan laju kereta. Gajah Mada ingin sekali mengabdikan diri dengan ilmu yang dimilikinya di kerajaan Majapahit.

About these ads

About Balenews

Blogger, Context & content writter, & Internet marketing Bussiness Online Institute
This entry was posted in Education. Bookmark the permalink.

3 Responses to Masa Kecil Gajah Mada

  1. Balenews says:

    Dari cerita rakyat Bali ttg Eyang Hanuraga

  2. Balenews says:

    Yups… sedang cari referensi

  3. Balenews says:

    Makasih uraiannya… memang tulisan ini berdasarkan prasasti- prasasti sejarah yang ada di jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s